Kamis, 03 Mei 2012

Dewan Menyayangkan Adanya Bangunan Sekolah Tak Layak

Surabaya - Bangunan sekolah di SMP PGRI 16 di Jalan Kupang Krajan III No.12, Surabaya yang memprihatinkan membuat geram Fraksi Demokrat DPRD Prov. Jawa Timur, Titik Indrawati, SH. 


Saat meninjau ke lokasi, Titik berencana akan berkoordinasi dengan Yayasan Siswa Tama pemilik gedung tersebut dengan Dinas Pendidikan Kota Surabaya, meskipun dikelola oleh swasta dan bukan sekolah negeri. Menurutnya tetap diperhatikan nasib calon pemimpin-pemimpin masa depan tersebut. 

"Kita akan mencari solusi bersama-sama," ujar Titik Indrawati, SH kepada wartawan di gedung SMP PGRI 16, Jalan Kupang Krajan, Sawahan, Surabaya, Rabu (2/5/2012).

Untuk diketahui, proses belajar mengajar SMP PGRI 16 dimulai siang hari, dikarenakan pagi digunakan sebagai tempat belajar mengajar SD Siswa Tama. Ada tiga ruang sekolah yang dibangun oleh Njomo bin Towidjojo dan diresmikan pada 29 Agustus 1970 silam itu, mengalami kerusakan parah dan tidak bisa digunakan belajar, karena gentengnya ambrol, atap dan kayu penyangganya juga hancur dimakan rayap. Bahkan, ada bagian genteng yang tinggal menunggu waktu ambrol lagi.

"Saya sudah menanyakan ke kepala sekolahnya. Memang tidak bisa berbuat apa-apa, karena SMP PGRI 16 hanya mengontrak. Dan saya masih belum bertemu ketua yayasannya," ujarnya.

Titik yang juga menjabat sebagai Ketua Kaukus Perempuan Parlemen DPRD Prov. Jatim ini mengakui, memang agak repot ketika sekolah tersebut dikelola oleh swasta. Namun, pihaknya tidak ingin para siswa menjadi korban dan tidak bisa nyaman mengikuti kegiatan belajar mengajar.

"Yayayasan akan kita hubungi. Dinas dan pemerintah terkait juga akan kita hubungi, mungkin bisa bertemua di dewan (DPRD Jatim) atau disini tidak masalah. Yang penting ada solusinya," jelasnya.

Sementara itu, Angga Kurniawan wakil sekretaris Yayasan Siswa Tama mengatakan, setelah atap dan langit-langit kelas tersebut ambrol, pihaknya lagsung mengajukan proposal ke perusahaan swasta. Namun, belum ada kepastian kapan mendapatkan bantuan untuk renovasi sekolah.

"Saya belum tahu, apakah sudah dilaporkan ke dinas (Dinas Pendidikan Kota Surabaya). Tapi kita sudah mengajukan proposal ke berbagai instansi, katanya tahun ini tidak bisa karena penuh, mungkin bisa dibantu tahun depan," jelas Angga. (ara/rois-detik)

Selasa, 17 Mei 2011

International Day Against Homophobia (IDAHO)

“Stop Kekerasan Dan Kebencian Berdasarkan Orientasi Seksual dan Identitas Gender”
Jakarta, 17 Mei 2011
 
Apabila seseorang diserang, diperlakukan dengan kejam, atau dipenjarakan karena orientasi seksual mereka, kita harus bersuara. (BAN Ki-moon, Sekretaris Jenderal PBB,10 Desember 2010)

Hari ini seluruh dunia merayakan peringatan hari international melawan homophobia atau yang dikenal International Day Against Homophobia (IDAHO).

Mengapa tanggal 17 Mei ?

Minggu, 15 Mei 2011

Perlu Perubahan Pendidikan

Pembina Ikatan Guru Indonesia Ahmad Rizali menyatakan kebangkitan mendasar bangsa ini harus dimulai dari pendidikan. 

"Jika potret pendidikan tetap jeblok seperti ini, bangsa ini sulit bisa bersaing secara global. Kita memerlukan perubahan secepatnya," tegas Ahmad Rizali dalam seminar "Potret Pendidikan Nasional" di Student Center Universitas Indonesia, , Jumat (13 Mei 2011)
Acara ini diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa UI.

Rumah WR Soepratman Kini Jadi Minimarket

Tidak banyak yang tahu komponis besar pencipta lagu kebangsaan Indonesia Raya,Wage Rudolf (WR) Soepratman,ternyata banyak menghabiskan waktu semasa hidupnya di Kota Cimahi.

Sejak memasuki masa pendidikan dasar hingga menjelang akhir hayatnya pada 17 Agustus 1937,Soepratman sering kali mengunjungi rumah kedua orang tuanya di Jalan Warung Contong No 44 RT 01/09,Kelurahan Setiamanah,Kecamatan Cimahi Tengah. Semasa hidup,Soepratman yang lahir pada 9 Maret 1903 sudah menganggap rumah tersebut sebagai tempat peristirahatan.

Jumat, 13 Mei 2011

Data Penurunan Angka Kemiskinan Pemerintah Fiktif

JAKARTA - Data pemerintah terkait penurunan angka kemiskinan di Indonesia hingga sebesar 13 persen tidaklah sesuai dengan kenyataan di lapangan alias fiktif. "Dari kunjungan saya selama reses ke Provinsi Jawa Tengah, saya melihat banyak masyarakat miskin di desa-desa," ungkap Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia, Poppy Dharsono di Gedung MPR/DPR/DPD RI, Jumat (13/5).